Oleh: Fajar Dwi Noviantoro (denbaguesfajardwi10@gmail.com)
Pendapat yang tertuang dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Literaku Indonesia
Damai adalah menjadi tenang dalam hati
Kedamaian berasal dan dimulai dari kita sendiri
Damai ketika kita mempunyai pikiran positif terhadap diri dan orang lain
Kedamaian akan menghasilkan keseimbangan dalam interaksi sosial serta menciptakan keharmonisan dalam relasi di masyarakat. (Living Values Education)
Al aql al-salim al jism al salim (iman yang benar akan melahirkan cinta, sesama manusia)
Banyak orang menyebut Yogyakarta sebagai tempat yang istimewa. Wilayah yang memiliki predikat sebagai kota pendidikan dengan ribuan mahasiswa, tempat pariwisata yang menawarkan surga dunia dengan keindahan alam, dan tentu sebagai kota budaya dengan sejarah yang luar biasa. Di kota ini hampir seluruh elemen masyarakat nusantara ada disini. Mulai dari Jawa, Sunda, Papua, Dayak, Bugis, Madura, Batak, Nias, Minang dan suku-suku lainya. Ada yang datang merantau untuk belajar, bekerja, atau berwirausaha. Semua memiliki tujuan masing-masing. Akan tetapi, ada satu hal yang sama, yaitu spirit untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik demi masa depan yang cerah dan bahagia.
Youth Fun Learning adalah salah satu program yang bertujuan memberikan ruang untuk anak muda bertumbuh, baik secara personal maupun komunitas. Kegiatan ini menggunakan pendekatan experiential learning dengan dialog reflektif yang dikemas secara santai, interaktif, dan dekat dengan alam, Belajar, Bermain, dan Berwisata. Program ini diselenggarakan oleh Sang Learner dengan dukungan dari Literaku Indonesia melalui program Community Visit 2026. Secara singkat, Sang Learner adalah komunitas yang berfokus pada pengembangan diri untuk bertumbuh secara personal dan menjadi profesional. Sementara itu, Literaku adalah lembaga inisiatif youth-led yang berfokus pada peace literacy, critical dialogue, dan penguatan aksi komunitas anak muda.

Foto tim Sang Learner dan Literaku
Sebelum membuat dan menyelenggarakan Youth Fun Learning, tim inti dari Sang Learner diberikan pelatihan oleh tim Literaku Indonesia. Pelatihan ini diselenggarakan pada 17 Mei 2026 di Daheim. Dalam sesi pelatihan tim Sang Learner diajak untuk merayakan perspektif dengan tool The Relational Earth Youth Council, sebuah metode belajar yang membantu anak muda merayakan keberagaman perspektif dalam diskusi sekaligus merefleksikan hubungan manusia dan alam. Melalui tool ini, peserta diajak melihat bagaimana sudut pandang yang berbeda dapat membentuk cara seseorang memahami isu sosial, lingkungan, dan masa depan komunitas bersama
Setelah mendapatkan pelatihan, Sang Learner sebagai komunitas terpilih membuat sebuah micro action, yaitu Youth Fun Learning. Kegiatan ini dilakukan pada 24 Mei 2026 di Omah Salak. Tempat ini sengaja dipilih agar belajar bisa menyenangkan dan dekat dengan alam. Para peserta yang bergabung dalam aksi kecil ini sejumlah dua belas orang dari latar belakang yang berbeda. Mulai dari pendidikan (SMA – S2) dan agama (Islam dan Kristen). Dalam implementasinya, para peserta diajak untuk saling mengenal melalui game ice breaking, sehingga membuat peserta bahagia dan bisa membangun kedekatan emosi satu sama lain.

Kemudian peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan didampingi dua fasilitator. Dalam kelompok ini setiap orang diberikan kesempatan untuk berpendapat dan tidak ada jawaban benar atau salah sehingga membuat ruang diskusi menjadi tempat yang aman dan penuh penghargaan. Di sisi lain, setiap orang juga diminta untuk mencoba menempatkan diri di posisi berlawanan sehingga rasa empati dan kekayaan perspektif bisa didapatkan.
Setelah melakukan diskusi reflektif dalam kelompok, setiap kelompok mempresentasikan hasil kesepakatan dari narasi yang sudah di diskusikan. Dalam penyampaian ini setiap kelompok diwakili satu orang untuk memberikan argumen dalam mengambil sebuah keputusan. Misalnya narasi tentang “isu belum mendesak jika kita belum merasakan isu ini secara langsung”. Hawa sebagai perwakilan kelompok memberikan analogi tentang isu perang Iran dan Amerika. Ia berpendapat bahwa walaupun kita tidak merasakan langsung dan hanya mereka yang mendesak tetapi perlahan mulai sampai ke kita, seperti rupiah melemah dan harga minyak naik. Oleh karena itu sangat penting untuk memiliki kesadaran dan peduli dengan isu-isu internasional.
Dengan memperbanyak ruang perjumpaan untuk anak muda berdiskusi secara aman dan reflektif maka semakin banyak perspektif yang bisa didapatkan. Kami percaya bahwa dengan memiliki perspektif yang beragam maka akan mudah untuk membuat aksi yang relevan dan berdampak nyata. Oleh sebab itu, kami berharap program seperti Youth Fun Learning dapat dilakukan secara konsisten dan memperbanyak jaringan untuk berkolaborasi, karena hal baik perlu untuk dilakukan bersama.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Abigail peserta Youth Fun Learning menurutnya kegiatan ini asyik dan materinya sangat bagus apalagi dibawakan dengan santai, sehingga terasa mudah untuk dipahami. Kemudian dari Hawa juga menyampaikan bahwa kegiatan Youth Fun Learning hari ini asyik banget karena bisa dapat relasi baru dan ilmu baru terutama kita mendapatkan cara pandang baru dengan kacamata yang lain.
Di akhir kegiatan, para peserta diajak untuk berwisata dengan panen salak. Mereka diajak langsung ke kebun dan diperkenalkan dengan para petani salak yang ada di Turi, Sleman. Dengan pengalaman ini peserta dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan warga, sehingga kedekatan dan relasi sosial dapat terjalin. The last but not least, Kami tim Youth Fun Learning berpesan untuk komunitas atau anak muda yang sedang berusaha dalam membangun perdamaian, saya ucapkan terimakasih banyak sudah mengambil peran yang sangat berharga ini. Mungkin jalannya tidak mudah, tetapi jangan pernah menyerah. Boleh jadi, lilin perdamaian yang kita nyalakan hari ini adalah cahaya kehidupan yang sangat penting untuk masa depan orang lain.
#Belajar dengan hati bahagia
#Bertumbuh secara personal dan menjadi profesional.